Suatu hari Pak Tua mengundang pejabat-pejabat dan
teman-temannya yang kaya untuk menikmati jamuan makan dirumahnya yang
sederhana. Bagaimanapun, seseorang yang kaya, jarang yang hendak memenuhi
undangan makan yang diselenggarakan oleh orang yang hidupnya hanya sederhana.
Namun berbeda jika undangan tersebut dari mulut dan surat lusuh Pak Tua. Mereka
akan dengan senang hati menerima tawaran tersebut.
Maka sesuai dengan janji yang ditetapkan, mereka
semua-teman Pak Tua-berkumpul di rumah Pak Tua untuk menerima jamuan dari Pak
Tua. Lewat sebab pak tua, pejabat dan orang-orang kaya tersebut berteman baik.
Sehingga mereka pun saling bertukar cerita, berbagi pengalaman. Memang awalnya
mereka bercerita tentang keberhasilan usaha mereka, kedudukan dan
jabatan-jabatan mereka. Dan seperti biasa, pak tua menanggapinya dengan
tersenyum simpul.
Baru saja lewat 50 menit bercerita tentang
keberhasilan-keberhasilan mereka, perlahan-perlahan mulai berganti topik,
bercerita tentang stresnya mengurus anak buah yang tidak becus menjalakan
pekerjaan, masalah keluarga, anak-anak mereka yang bandel, dan lain sebagainya
yang membuat penat kepala dan stres berkepanjangan.
Melihat itu, Pak Tua beranjak dari tempat duduknya, pergi
menuju dapur. Mengambil beberapa gelas yang memiliki nilai seni yang lebih.
Lalu mengambil beberapa gelas biasa yang lainnya. Lalu mengisikan gelas-gelas
itu dengan air kopi, membawanya kepada teman-temannya.
Sesampainya di ruang tamu, dimana teman-temannya
berkumpul, ia menaruh cangkir-cangkir tersebut. Menaruhnya ditengah-tengah
meja,dan mempersilakan kepada teman-temannya untuk meminumnya.
Pak Tua membiarkan teman-temannya untuk mengambil cangkir
yang manapun juga.perlahan pak tua tersnyum melihat kelakuan mereka. Pak tua
pun berdeham pelan, tiba-tiba saja suasana menjadi hening
“Semua jawaban masalah kalian ada dalam secangkir kopi tersebut.”
Ujar pak tua memulai kata-katanya. “Kalian semua hanya
melihat sesuatu dari luarnya saja. Tidak berpikir jauh tentang apa yang ada di
dalam.” Sambil kembali tersenyum.
“Kalian selalu memutuskan sesuatu yang hanya terlihat
baik di depan mata. Kalian tidak berpikir jauh tentang apa yang terjadi bila
kalian mengambil pilihan itu.”
“ Sama saja halnya ketika kalian disibukkan dengan
berbagai pekerjaan. Uang yang ada dihadapan kalian harus kalian dapatkan. Kepuasan
hawa nafsu. Hasrat yang tinggi untuk mencapai sesuatu yang menurut kalian
disebut kebahagiaan. Kalian hanya melihat dari luarnya. Padahal apalah arti
sebuah cangkir yang indah jika dibandingkan dengan cangkir lainnya padahal
isinya pun serupa. Hanya kopi. Tidak lebih.” Lanjut Pak Tua.
Teman-teman Pak Tua bungkam seribu bahasa takzim dan
takjub mendengar ucapan Pak Tua.
Lalu pak Tua melanjutkan “Oleh karena itu, jangan pernah
melihat sesuatu yang menurut kalian baik hanya dari luarnya saja. Pelajari sesuatu
itu. Atau jangan pernah mencari kebahagiaan yang hanya terlihat dari luarnya
saja. Carilah kebahagiaan dari sisi dalam. Apapun itu, karena kebahagiaan yang
sesungguhnya hanyalah terletak didalam hati. Sempatkan waktu kalian untuk
orang-orang yang kalian cintai. Dan rubahlah hidup ini menjadi lebih baik.”
Teman-teman Pak tua pun mengangguk paham.
So, carilah kebahagiaan dari dalam hati...

0 komentar:
Posting Komentar
Jadilah pribadi kritikus yang mendidik.