Rabu, 08 April 2015


         
         Pak Tua adalah orang yang sangat bijak. Kata-katanya menyentuh jiwa. Penuh dengan makna. Penasehat yang baik. Pendengar yang baik. Kisah - kisahnya memberikan motivasi yang luar biasa. Mudah bergaul dengan orang lain. Tutur katanya halus, nan indah. Maka tak ayal apabila Pak tua memiliki banyak teman. Bukan hanya dari kalangan orang-orang biasa saja, bahkan seorang pembisnis besar pun berteman dengannya, pejabat-pejabat tinggi, para profesor peniliti, semua berteman dengannya.

            Suatu hari Pak Tua mengundang pejabat-pejabat dan teman-temannya yang kaya untuk menikmati jamuan makan dirumahnya yang sederhana. Bagaimanapun, seseorang yang kaya, jarang yang hendak memenuhi undangan makan yang diselenggarakan oleh orang yang hidupnya hanya sederhana. Namun berbeda jika undangan tersebut dari mulut dan surat lusuh Pak Tua. Mereka akan dengan senang hati menerima tawaran tersebut.

            Maka sesuai dengan janji yang ditetapkan, mereka semua-teman Pak Tua-berkumpul di rumah Pak Tua untuk menerima jamuan dari Pak Tua. Lewat sebab pak tua, pejabat dan orang-orang kaya tersebut berteman baik. Sehingga mereka pun saling bertukar cerita, berbagi pengalaman. Memang awalnya mereka bercerita tentang keberhasilan usaha mereka, kedudukan dan jabatan-jabatan mereka. Dan seperti biasa, pak tua menanggapinya dengan tersenyum simpul.
            Baru saja lewat 50 menit bercerita tentang keberhasilan-keberhasilan mereka, perlahan-perlahan mulai berganti topik, bercerita tentang stresnya mengurus anak buah yang tidak becus menjalakan pekerjaan, masalah keluarga, anak-anak mereka yang bandel, dan lain sebagainya yang membuat penat kepala dan stres berkepanjangan.
            Melihat itu, Pak Tua beranjak dari tempat duduknya, pergi menuju dapur. Mengambil beberapa gelas yang memiliki nilai seni yang lebih. Lalu mengambil beberapa gelas biasa yang lainnya. Lalu mengisikan gelas-gelas itu dengan air kopi, membawanya kepada teman-temannya.
            Sesampainya di ruang tamu, dimana teman-temannya berkumpul, ia menaruh cangkir-cangkir tersebut. Menaruhnya ditengah-tengah meja,dan mempersilakan kepada teman-temannya untuk meminumnya.
            Pak Tua membiarkan teman-temannya untuk mengambil cangkir yang manapun juga.perlahan pak tua tersnyum melihat kelakuan mereka. Pak tua pun berdeham pelan, tiba-tiba saja suasana menjadi hening
            “Semua jawaban masalah kalian ada dalam secangkir kopi tersebut.” Ujar pak tua memulai kata-katanya. “Kalian semua hanya melihat sesuatu dari luarnya saja. Tidak berpikir jauh tentang apa yang ada di dalam.” Sambil kembali tersenyum.
            “Kalian selalu memutuskan sesuatu yang hanya terlihat baik di depan mata. Kalian tidak berpikir jauh tentang apa yang terjadi bila kalian mengambil pilihan itu.”
            “ Sama saja halnya ketika kalian disibukkan dengan berbagai pekerjaan. Uang yang ada dihadapan kalian harus kalian dapatkan. Kepuasan hawa nafsu. Hasrat yang tinggi untuk mencapai sesuatu yang menurut kalian disebut kebahagiaan. Kalian hanya melihat dari luarnya. Padahal apalah arti sebuah cangkir yang indah jika dibandingkan dengan cangkir lainnya padahal isinya pun serupa. Hanya kopi. Tidak lebih.” Lanjut Pak Tua.
            Teman-teman Pak Tua bungkam seribu bahasa takzim dan takjub mendengar ucapan Pak Tua.
            Lalu pak Tua melanjutkan “Oleh karena itu, jangan pernah melihat sesuatu yang menurut kalian baik hanya dari luarnya saja. Pelajari sesuatu itu. Atau jangan pernah mencari kebahagiaan yang hanya terlihat dari luarnya saja. Carilah kebahagiaan dari sisi dalam. Apapun itu, karena kebahagiaan yang sesungguhnya hanyalah terletak didalam hati. Sempatkan waktu kalian untuk orang-orang yang kalian cintai. Dan rubahlah hidup ini menjadi lebih baik.”
            Teman-teman Pak tua pun mengangguk paham.

So, carilah kebahagiaan dari dalam hati...


Posting Lebih Baru
Previous
This is the last post.

0 komentar:

Posting Komentar

Jadilah pribadi kritikus yang mendidik.